Saat jam makan siang Hinata pergi terburu-buru
keluar kelas tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Matte Hina-chan!” dari panggilannya Hinata sudah tau kalau yang memanggilnya adalah Naruto, tapi Hinata tidak menghiraukanya dia langsung pergi meninggalkan kelasnya, tapi tidak sempat karena tangan Naruto menahan tangan Hinata dari belakang.
“S-sumimase tolong l-lepaskan”
“Ah, gomen. Kau terlalu terburu-buru, jadi mungkin kau tidak mendengar kalau aku memanggilmu tadi. Etto… apa kau mau ke kantin bersama ku? Aku belum sarapan”
‘Dia memang tidak tau ya kalau aku tadi sengaja menghiraukanya karena gugup’ Gumam Hinata di dalam hati.
“Aku memang terburu-buru, aku harus ke ruang musik”
“Waahh… kau bisa memainkan alat musik? Alat musik apa?”
“ Gi-gi-“
“Gitar?” Tebak Naruto dengan asal karena kelamaan menunggu Hinata berbicara
“I-iya”
“Wahhh kau bisa memainkanya? Kalau begitu kita ke ruang musik bersama saja, kau mau kan mengajariku bermain gitar?” ucap Naruto gembira.
“T-tapi tadi k-kau bilang ingin ke kantin, kita ke kantin saja. A-ayo aku juga l-lapar.” Tiba-tiba pipi Hinata memerah karena tanpa sadar dia mengajak Naruto makan bersama.
‘duh gimana sih, aku kan cewek, masa ngajak makan cowok sih, aku keceplosan nih gara-gara aku tidak bisa memainkan gitar di depannya karena gugup’ itulah yang ada di pikiran Hinata saat ini.
“Tapi aku ingin melihat permainan gitarmu, ayolah!”
“Tapi aku lapar”
“Kalau kamu lapar kenapa tadi mau ke ruang musik?”
“Itu Karena….”
“Karena apa?”
“Karena aku baru saja laparnya!” Ucap Hinata yang sedikit lebih keras dari sebelumnya, dan tanpa sadar Hinata menyeret tangan Naruto menuju kantin.
“Are? Kenapa aku menyeret tangan Maki-chan eh maksudku Uzumaki-san? Aduh bodoh banget sih aku. Pasti Uzumaki-san merasa kalau aku menyukainya. Aduuhh bagaimana ini? Semoga dia tidak mendengar detak jantungku’
“Matte Hina-chan!” dari panggilannya Hinata sudah tau kalau yang memanggilnya adalah Naruto, tapi Hinata tidak menghiraukanya dia langsung pergi meninggalkan kelasnya, tapi tidak sempat karena tangan Naruto menahan tangan Hinata dari belakang.
“S-sumimase tolong l-lepaskan”
“Ah, gomen. Kau terlalu terburu-buru, jadi mungkin kau tidak mendengar kalau aku memanggilmu tadi. Etto… apa kau mau ke kantin bersama ku? Aku belum sarapan”
‘Dia memang tidak tau ya kalau aku tadi sengaja menghiraukanya karena gugup’ Gumam Hinata di dalam hati.
“Aku memang terburu-buru, aku harus ke ruang musik”
“Waahh… kau bisa memainkan alat musik? Alat musik apa?”
“ Gi-gi-“
“Gitar?” Tebak Naruto dengan asal karena kelamaan menunggu Hinata berbicara
“I-iya”
“Wahhh kau bisa memainkanya? Kalau begitu kita ke ruang musik bersama saja, kau mau kan mengajariku bermain gitar?” ucap Naruto gembira.
“T-tapi tadi k-kau bilang ingin ke kantin, kita ke kantin saja. A-ayo aku juga l-lapar.” Tiba-tiba pipi Hinata memerah karena tanpa sadar dia mengajak Naruto makan bersama.
‘duh gimana sih, aku kan cewek, masa ngajak makan cowok sih, aku keceplosan nih gara-gara aku tidak bisa memainkan gitar di depannya karena gugup’ itulah yang ada di pikiran Hinata saat ini.
“Tapi aku ingin melihat permainan gitarmu, ayolah!”
“Tapi aku lapar”
“Kalau kamu lapar kenapa tadi mau ke ruang musik?”
“Itu Karena….”
“Karena apa?”
“Karena aku baru saja laparnya!” Ucap Hinata yang sedikit lebih keras dari sebelumnya, dan tanpa sadar Hinata menyeret tangan Naruto menuju kantin.
“Are? Kenapa aku menyeret tangan Maki-chan eh maksudku Uzumaki-san? Aduh bodoh banget sih aku. Pasti Uzumaki-san merasa kalau aku menyukainya. Aduuhh bagaimana ini? Semoga dia tidak mendengar detak jantungku’
Sesampainya
di kantin, Naruto dan Hinata hanya bengong melihat seisi kantin yang penuhnya
luar biasa, Mungkin karena murid baru tahun ini dua kali lipat lebih banyak
dari tahun sebelumnya, jadi terpaksa Naruto dan Hinata harus mengantri di
antrian paling belakang.
“A-ano Maki- etto.. Uzumaki-san”
“Eh? Itu adalah panggilan pertama mu untukku. Kenapa?”
“Maaf, karena mengajakmu menemani ku ke kantin kita jadi harus mengantri panjang”
“Bukanya aku yang menngajakmu duluan?”
“T-tapi kan setelah itu kau ingin ke ruang musik. Kalau saja aku menuruti permintaanmu kita tidak akan mengantri sepanjang ini.”
“Tenang saja lagi pula tinggal 14 orang lagi. Tapi kamu belum kelaparan banget kan?”
“Justru kamu yang akan kelaparan, bukan aku” Lagi-lagi Hinata memerahkan pipinya secara alami karena Naruto memperhatikanya.
“Oh ya, jangan memanggil ku dengan Uzumaki-san ya! Panggil saja Naruto atau Naruto-kun juga boleh”
ucap Naruto sambil mengacungkan jempolnya ala Gay-sensei yang membuat wajah Hinata semakin memerah.
“B-b-bagaimana ka-kalau ‘Maki-chan’?” Hinata tertunduk malu karena menyebut nama ‘Maki-chan’
“Haaahhh??? Da-da-dari mana ka-kau tau na-nama i-itu?” Naruto jadi ketularan penyakit gagap yang di derita Hinata, karena ada seseorang yang mengetahui nama panggilan anehnya itu, selama ini yang mengetahui nama anehnya hanyalah Sasuke dan Kiba. Hinata terlihat bingung karena jika dia memberitahu yang sebenarnya kalau Hinata terus memperhatikan Naruto sewaktu tes masuk di Konoha International School, bisa ketahuan kalau Hinata menyukainya.
“Etto… a-aku hanya menebak-nebak, karena jika memanggil dengan Maki-chan yg di ambil dari nama klan mu nama mu jadi kawai” Hinata memperlihatkan senyum manisnya.
“Ssshhtt….. diamlah! Jangan terlalu keras menyebut nama itu di tempat umum kecuali di rumahku, aku malu dengan nama aneh yang kau buat itu.”
“Eh? Kenapa malu? Itu nama yang sangat kawai.”
“Kawai menurut perempuan, tapi tidak untukku”
“Wakatta Naruto-kun” lagi-lagi Hinata menunjukan senyum manisnya kepada Naruto dan memanggilnnya ‘Naruto-kun’. Sampai tidak terasa sudah giliran antrian mereka. Naruto membeli sebuah Dorayaki, dan Hinata membeli sebuah Tamagoyaki, seusai membeli Naruto dan Hinata mencari tempat duduk di kantin dan ternyata tidak menemukanya, terpaksa Naruto dan Hinata harus kembali ke kelas. Gagal deh Hinata duduk berdua dengan Naruto. Pada saat perjalanan kembali ke kelas dengan menundukan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah Hinata memberanikan diri membuka pembicaraan yang sedari tadi hening.
“Nee N-Naruto-kun”
“Nani?”
“Bagaimana manurutmu tentang kelas yang di acak ulang?”
“Hmm…. Bagaimana yaa.. itu normal saja, kita kan masih masa MOS. Wajarlah kalau kelas dig anti untuk masa belajar.”
“Oh begitu” Hinata meng-oh kan, Hinata pikir Naruto akan sedih karena tidak bisa sekelas dengan Hinata lagi, tapi sepertinya hanya Hinata yang merasakan hal tersebut.
“A-ano Maki- etto.. Uzumaki-san”
“Eh? Itu adalah panggilan pertama mu untukku. Kenapa?”
“Maaf, karena mengajakmu menemani ku ke kantin kita jadi harus mengantri panjang”
“Bukanya aku yang menngajakmu duluan?”
“T-tapi kan setelah itu kau ingin ke ruang musik. Kalau saja aku menuruti permintaanmu kita tidak akan mengantri sepanjang ini.”
“Tenang saja lagi pula tinggal 14 orang lagi. Tapi kamu belum kelaparan banget kan?”
“Justru kamu yang akan kelaparan, bukan aku” Lagi-lagi Hinata memerahkan pipinya secara alami karena Naruto memperhatikanya.
“Oh ya, jangan memanggil ku dengan Uzumaki-san ya! Panggil saja Naruto atau Naruto-kun juga boleh”
ucap Naruto sambil mengacungkan jempolnya ala Gay-sensei yang membuat wajah Hinata semakin memerah.
“B-b-bagaimana ka-kalau ‘Maki-chan’?” Hinata tertunduk malu karena menyebut nama ‘Maki-chan’
“Haaahhh??? Da-da-dari mana ka-kau tau na-nama i-itu?” Naruto jadi ketularan penyakit gagap yang di derita Hinata, karena ada seseorang yang mengetahui nama panggilan anehnya itu, selama ini yang mengetahui nama anehnya hanyalah Sasuke dan Kiba. Hinata terlihat bingung karena jika dia memberitahu yang sebenarnya kalau Hinata terus memperhatikan Naruto sewaktu tes masuk di Konoha International School, bisa ketahuan kalau Hinata menyukainya.
“Etto… a-aku hanya menebak-nebak, karena jika memanggil dengan Maki-chan yg di ambil dari nama klan mu nama mu jadi kawai” Hinata memperlihatkan senyum manisnya.
“Ssshhtt….. diamlah! Jangan terlalu keras menyebut nama itu di tempat umum kecuali di rumahku, aku malu dengan nama aneh yang kau buat itu.”
“Eh? Kenapa malu? Itu nama yang sangat kawai.”
“Kawai menurut perempuan, tapi tidak untukku”
“Wakatta Naruto-kun” lagi-lagi Hinata menunjukan senyum manisnya kepada Naruto dan memanggilnnya ‘Naruto-kun’. Sampai tidak terasa sudah giliran antrian mereka. Naruto membeli sebuah Dorayaki, dan Hinata membeli sebuah Tamagoyaki, seusai membeli Naruto dan Hinata mencari tempat duduk di kantin dan ternyata tidak menemukanya, terpaksa Naruto dan Hinata harus kembali ke kelas. Gagal deh Hinata duduk berdua dengan Naruto. Pada saat perjalanan kembali ke kelas dengan menundukan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah Hinata memberanikan diri membuka pembicaraan yang sedari tadi hening.
“Nee N-Naruto-kun”
“Nani?”
“Bagaimana manurutmu tentang kelas yang di acak ulang?”
“Hmm…. Bagaimana yaa.. itu normal saja, kita kan masih masa MOS. Wajarlah kalau kelas dig anti untuk masa belajar.”
“Oh begitu” Hinata meng-oh kan, Hinata pikir Naruto akan sedih karena tidak bisa sekelas dengan Hinata lagi, tapi sepertinya hanya Hinata yang merasakan hal tersebut.
.
.
.
Sekolah hari pun berakhir, sama artinya Hinata juga
harus mengakhiri masa-masa Hinata sekelas dengan seseorang yang diharapkanya,
Naruto. Tanpa mengucapkan kata perpisahan apapun kepada Hinata, Naruto langsung
cepat-cepat keluar kelas seakan-akan selama ini Naruto senang berteman dengan
Hinata. Hinata yang melihat itu merasakan dia tidak mungkin bersatu dengan
‘cinta pertamanya’ itu, ‘apakah kita ini
teman? Atau selama ini kau hanya menganggap ku orang gagap yang lupa membawa
bekalnya?’ itulah yang terlintas di pikiran Hinata. HInata mencoba mengejar
Naruto keluar kelas untuk mengucapkan selamat tinggal, yaaa… sepertinya
terlambat Hinata harus pulang kerumahnya.
Begitu sampai rumah
“Ehh… dimana gitarku? Aduh aku lupa mengambilnya di ruang musik karena mengejar Naruto-kun dan langsung pulang” gerutu Hinata seketika di kamarnya, kesedihan nya semakin bertambah.
“Kelas baru ya?” kata-kata itu keluar dari mulut Hinata sambil merebahkan diri nya di kasur empuknya itu.
....
Begitu sampai rumah
“Ehh… dimana gitarku? Aduh aku lupa mengambilnya di ruang musik karena mengejar Naruto-kun dan langsung pulang” gerutu Hinata seketika di kamarnya, kesedihan nya semakin bertambah.
“Kelas baru ya?” kata-kata itu keluar dari mulut Hinata sambil merebahkan diri nya di kasur empuknya itu.
....
.
.
.
.
Hinata sudah bersiap ke sekolah dengan seragam nya
pagi-pagi sekali mungkin itu terlalu pagi untuk berangkat sekolah, tapi mau
bagaimana lagi Hinata harus mencari gitarnya dulu apakah masih ada atau hilang
terlebih lagi Hinata harus menemukan kelas barunya. Hinata berjalan di koridor
lebih tepatnya berlari menuju ruang musik, sesampainya di ruang musik, Hinata
terlihat lega karena gitarnya masih tetap pada tempatnya. Hinata kembali lagi
untuk melihat –lihat dari pintu ke pintu kelas 1-1 dia tidak menemukan nama nya
ada di daftar nama yang di tempel di pintu tersebut begitu juga di kelas 1-2,
Hinata berhenti di kelas 1-3 karena disitulah kelasnya tapi Hinata tidak
memasukinya bahkan menaruh tas untuk memilih tempat duduk saja tidak padahal
dia bisa bebas memilih karena hanya dia yang sudah datang, dia memilih duduk di
kursi yang ada di depan kelasnya memandangi sekolah barunya itu.*Rajin banget
dia datang pagi Cuma buat memandang sekolah barunya gak kayak si author
>_< * Hinata seperti mengingat sesuatu dan segera berdiri dengan cepat
kembali melihat daftar nama yang tertempel di pintu kelas, mata lavendernya
membulat melihat nama ‘Uzumaki Naruto’. Semburat merah dan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya sambil kembali
ke tempatnya Hinata melihat seseorang dengan tinggi yang WoW berjalan menuju
kelas 1-3 aneh rasanya dia tidak mencari-cari kelas lainnya dia hanya tertuju
pada satu kelas yaitu kelas 1-3. Jantung Hinata berdegup (*tunggu.. author gak
tau ‘berdegup’ itu pake ‘P’ atau ‘B’ >_< *) kencang karena seseorang itu
adalah Naruto, yang kini melihat daftar nama di depan pintu, tanpa berkata
apapun pada Hinata, Naruto langsung masuk ke kelas dengan bergumam ‘Hmm.. ternyata benar, Yokatta’. Hinata
sedikit bingung apa maksudnya kata-kata ‘Yokatta’
terlebih Naruto tidak mengucapkan apapun kepada Hinata, Hinata sempat berpikir
apakah Naruto melupakannya(?). tapi Naruto terlihat seperti orang baik, tidak
mungkin melupankan orang yang di panggilnya ‘Hina-chan’ itu. Bagi Hinata nama
Hina-chan sekarang sangat berharga, sama dengan nama maki-chan yang spesial
untuk Hinata.
Hinata memutuskan untuk masuk kelas jika ada
beberapa orang lagi yang masuk, karena Hinata terlalu malu untuk berduan dengan
Naruto di kelas. Tidak lama setelah Hinata duduk di kursi paling belakang nomer
dua di kelasnya.
“Hai Hinata-chan, bolehkah aku duduk di sebelahmu? Tidak ada yang menempati ‘kan?” sapa gadis cantik berambut pink dengan senyum lebar di wajahnya
“I-iya, silahkan” Hinata membalas dengan senyum
“Kita satu gugus waktu MOS ‘kan?”
“Haruno Sakura?”
“Yup”
“Hyuuga Hinata desu, hajimimaste” Hinata memperkenalkan diri kepada Sakura yang sebenarnya sudah kenal dengan Hinata
“Yaaa… aku sudah tau namamu Hinata-chan”
Hinata merasa malu karena memperkenalkan diri pada orang yang sudah mengenalnya. Tidak lama seseorang dengan wajah yang keren dan tampan memasuki kelas tersebut dengan wajah datar tapi keren untuk para gadis, dia menghampiri seseorang di pojok belakang tidak lain adalah Naruto dan duduk di sebelahnya, dan mulai berbincang, tapi Hinata tidak mendengar perbincangan mereka.
“Waaahhh… Sasuke-kun. Dia keren kan? Aku kaget berat waktu MOS dia duduk dengan ku.” Ucap Sakura dengan mata yang berbinar-binar
“Kau s-suka dengannya H-haruno-san?”
“Tidak, kau tau Sasori-senpai? Murid kelas 2-4? Dia anggota OSIS juga. Dan satu lagi jangan panggil aku Haruno-san, memangnya aku apa mu? Panggil saja nama ku okey!”
“B-baiklah Sakura-chan, dan lagi siapa itu Sasori-senpai? Kita baru 3 hari masuk sekolah, bagaimana kau bisa tau nama-nama para senpai kita?”
“Ohh ayolah Hinata, dia kan cowok keren pasti banyak cewek yang mengenalinya. Jangan terlalu kudet donk. Dan kau tau lagi? Pacar ketua OSIS kita? Neji-senpai, uuwwaaa… dia ganteng sekali, sifat dinginnya itu membuatnya terlihat lebih keren, aku sangat iri dengan ten-ten-senpai, uwwaaaa…” jelas Sakura yang penuh semangat.
“Eh? Nii-san?”
“Nii-san?, oh ya aku lupa kau bersaudara dengan nya ya? Aku lupa kalau nama klan Neji-senpai adalah Hyuuga sama dengan mu. Oh ya ngomong-ngomong, bagaimana sifatnya di rumah? Apakah sama seperti di sekolah?”
“Tidak, dia cerewet, selalu melarang ku melakukan ini itu.”
“Uwaahhh… itu namanya perhatian. Beruntung sekali kau mempunyai Nii-san seperti Neji-senpai.” Sakura berkagum-kagum. Hinata senang dia mendapatkan teman seceria Sakura karena Hinata tidak bisa bergaul dengan baik. Disaat jam pelajaran Hinata terus memandangi Naruto yang berada di ujung menatapnya heran, kenapa sikapnya seolah-olah tidak pernah kenal dengan Hinata, angan-angan Hinata pun untuk dekat dengan Naruto kandaslah sudah, melihat sikap Naruto yang acuh tak acuh padanya membuat hati Hinata terasa sakit, Hinata sempat berpikir ‘Apakah ini yang nama nya Cinta? Bukankah Cinta itu seharusnya menyenangkan? Kenapa ini terasa sakit? Apakah ada yang salah dengan Cinta ku? Dan apakah masih ada nama Hina-chan di pikiranya?’ Hinata yang baru saja merasakan cinta memang sulit untuk mengetahui apa itu cinta baginya, dia ingin bertanya kepada Sakura soal permasalahnya, tapi dia terlalu malu untuk membicarakan cerita cintanya pada orang lain, karena dia belum pernah sekalipun, memceritakan tentang cinta dengan orang lain.
“Hei, Hinata-chan! Mau ke kantin bersama ku?” tawar Sakura
“Maaf, bukanya aku menolak tapi aku ada urusan sebentar.”
“Ya sudahlah aku dengan yang lain aja, tapi lain kali kau harus ke kantin dengan ku.”
Perintah Sakura dengan wajah cemberut tapi tetap manis. Hinata memang harus ke ruang musik untuk memastikan gitarnya ‘lagi’ dia tidak ingin seorang OSIS piket menemukan gitarnya dan menyitanya.
“Hai Hinata-chan, bolehkah aku duduk di sebelahmu? Tidak ada yang menempati ‘kan?” sapa gadis cantik berambut pink dengan senyum lebar di wajahnya
“I-iya, silahkan” Hinata membalas dengan senyum
“Kita satu gugus waktu MOS ‘kan?”
“Haruno Sakura?”
“Yup”
“Hyuuga Hinata desu, hajimimaste” Hinata memperkenalkan diri kepada Sakura yang sebenarnya sudah kenal dengan Hinata
“Yaaa… aku sudah tau namamu Hinata-chan”
Hinata merasa malu karena memperkenalkan diri pada orang yang sudah mengenalnya. Tidak lama seseorang dengan wajah yang keren dan tampan memasuki kelas tersebut dengan wajah datar tapi keren untuk para gadis, dia menghampiri seseorang di pojok belakang tidak lain adalah Naruto dan duduk di sebelahnya, dan mulai berbincang, tapi Hinata tidak mendengar perbincangan mereka.
“Waaahhh… Sasuke-kun. Dia keren kan? Aku kaget berat waktu MOS dia duduk dengan ku.” Ucap Sakura dengan mata yang berbinar-binar
“Kau s-suka dengannya H-haruno-san?”
“Tidak, kau tau Sasori-senpai? Murid kelas 2-4? Dia anggota OSIS juga. Dan satu lagi jangan panggil aku Haruno-san, memangnya aku apa mu? Panggil saja nama ku okey!”
“B-baiklah Sakura-chan, dan lagi siapa itu Sasori-senpai? Kita baru 3 hari masuk sekolah, bagaimana kau bisa tau nama-nama para senpai kita?”
“Ohh ayolah Hinata, dia kan cowok keren pasti banyak cewek yang mengenalinya. Jangan terlalu kudet donk. Dan kau tau lagi? Pacar ketua OSIS kita? Neji-senpai, uuwwaaa… dia ganteng sekali, sifat dinginnya itu membuatnya terlihat lebih keren, aku sangat iri dengan ten-ten-senpai, uwwaaaa…” jelas Sakura yang penuh semangat.
“Eh? Nii-san?”
“Nii-san?, oh ya aku lupa kau bersaudara dengan nya ya? Aku lupa kalau nama klan Neji-senpai adalah Hyuuga sama dengan mu. Oh ya ngomong-ngomong, bagaimana sifatnya di rumah? Apakah sama seperti di sekolah?”
“Tidak, dia cerewet, selalu melarang ku melakukan ini itu.”
“Uwaahhh… itu namanya perhatian. Beruntung sekali kau mempunyai Nii-san seperti Neji-senpai.” Sakura berkagum-kagum. Hinata senang dia mendapatkan teman seceria Sakura karena Hinata tidak bisa bergaul dengan baik. Disaat jam pelajaran Hinata terus memandangi Naruto yang berada di ujung menatapnya heran, kenapa sikapnya seolah-olah tidak pernah kenal dengan Hinata, angan-angan Hinata pun untuk dekat dengan Naruto kandaslah sudah, melihat sikap Naruto yang acuh tak acuh padanya membuat hati Hinata terasa sakit, Hinata sempat berpikir ‘Apakah ini yang nama nya Cinta? Bukankah Cinta itu seharusnya menyenangkan? Kenapa ini terasa sakit? Apakah ada yang salah dengan Cinta ku? Dan apakah masih ada nama Hina-chan di pikiranya?’ Hinata yang baru saja merasakan cinta memang sulit untuk mengetahui apa itu cinta baginya, dia ingin bertanya kepada Sakura soal permasalahnya, tapi dia terlalu malu untuk membicarakan cerita cintanya pada orang lain, karena dia belum pernah sekalipun, memceritakan tentang cinta dengan orang lain.
“Hei, Hinata-chan! Mau ke kantin bersama ku?” tawar Sakura
“Maaf, bukanya aku menolak tapi aku ada urusan sebentar.”
“Ya sudahlah aku dengan yang lain aja, tapi lain kali kau harus ke kantin dengan ku.”
Perintah Sakura dengan wajah cemberut tapi tetap manis. Hinata memang harus ke ruang musik untuk memastikan gitarnya ‘lagi’ dia tidak ingin seorang OSIS piket menemukan gitarnya dan menyitanya.
Saat tiba di depan ruang musik, Hinata melihat
pintunya terbuka sedikit, Hinata mengintip melalui sela-sela pintu yang terbuka
dia melihat seseorang, seperti sedang mencatat sesuatu di ruangan itu,
sepertinya dia seorang laki-laki. Merasa curiga laki-laki tersebut menghampiri
gitar milik Hinata, dan Hinata menjadi bingung harus melakukan apa ketika
laki-laki itu memegang gitar miliknya, tiba-tiba saja seseorang dari belakang
Hinata memanggilnya dengan suara berat.
“Kalau mau masuk, masuk saja tidak usah mengintip.
Ini adalah tempat umum siapa saja boleh masuk.”
“Eehh? U-uchiha-san”
Mendengar keributan di luar, laki-laki yang ada di dalam pun keluar untuk mengecek apa sesuatu terjadi.
“Ada apa ini? Siapa yang mengintip?”
“Eh Nii-san, sedang apa Nii-san di ruang musik?” Hinata lega karena laki-laki itu adalah Nii-san nya.
“Tidak, aku hanya mencatat, fasilitas apa yang rusak.”
“Nii-san bukan anggota OSIS kan?”
“Tentu saja bukan. Aku hanya menggantikan tugas teman karena dia sedang ada keperluan lain. Dan aku melihat ada gitar akustik baru, yang mirip dengan milikmu di rumah, tapi sepertinya itu bukan milikmu karena disana tertulis ‘Hina-chan’ sudah pasti bukan milikmu ‘kan?” Tegas Nii-san Hinata yang tidak lain adalah Neji
“I-itu m-milikku.”
“Kenapa bisa ada disana?”
“E-etto-.”
“Ohh.. aku sudah tau apa tujuanmu. Sudah tertebak dari matamu. Ya sudah kau masuk sana! Aku harus ke ruang klub lainya.”
“Eehh? U-uchiha-san”
Mendengar keributan di luar, laki-laki yang ada di dalam pun keluar untuk mengecek apa sesuatu terjadi.
“Ada apa ini? Siapa yang mengintip?”
“Eh Nii-san, sedang apa Nii-san di ruang musik?” Hinata lega karena laki-laki itu adalah Nii-san nya.
“Tidak, aku hanya mencatat, fasilitas apa yang rusak.”
“Nii-san bukan anggota OSIS kan?”
“Tentu saja bukan. Aku hanya menggantikan tugas teman karena dia sedang ada keperluan lain. Dan aku melihat ada gitar akustik baru, yang mirip dengan milikmu di rumah, tapi sepertinya itu bukan milikmu karena disana tertulis ‘Hina-chan’ sudah pasti bukan milikmu ‘kan?” Tegas Nii-san Hinata yang tidak lain adalah Neji
“I-itu m-milikku.”
“Kenapa bisa ada disana?”
“E-etto-.”
“Ohh.. aku sudah tau apa tujuanmu. Sudah tertebak dari matamu. Ya sudah kau masuk sana! Aku harus ke ruang klub lainya.”
Hinata masuk ke dalam ruang musik tanpa ia ketahui
Sasuke mengikuti nya.
“Sedang apa kau masuk ke sini?”
“Ehh… U-uchiha-san s-sejak kapan k-kau di s-sini?”
“Kau tidak tau? Aku tadi yang menyuruhmu masuk saat kau sedang mengintip. Dan satu lagi sedang apa kau disini?”
“A-aku e-etto…”
“Ayolah, apa kau gagap?”
“T-tidak, i-itu a-aku mau mengambil g-gitarku”
“Itu gitarmu? Nama mu Hina-chan?”
“N-nama ku Hyuuga Hinata kelas 1-3, k-kita satu k-kelas.”
“Aku sudah tau kalau kita satu kelas.”
“L-lalu, kenapa k-kau menanyakan n-nama ku?”
“Itu karena nama mu aneh di gitar ini.”
“T-terserah aku mau m-memberinya n-nama apa!” Wajah Hinata mulai memerah (lagi)
“Cewek sepertimu bisa memainkan gitar? Cih, palingan hanya asal main agar bisa disanjung kakak kelas dan anggota OSIS”
Hinata bergumam di dalam hati
‘Uchiha-san sangat berbeda jauh dengan Naruto-kun, saat aku bilang aku bisa memainkan gitar Naruto-kun memujiku dan memintaku untuk mengajarinya. Dan jauh berbeda dengan Uchiha-san, dia seperti menganggap remeh cewek yang bisa memainkan gitar dan menuduh aku mencari perhatian dari kakak kelas. Setahu ku mereka seperti bersahabat tapi mengapa sifat mereka jauh berbeda?, Naruto-kun seperti orang yang hangat. Uchiha-san seperti hmm bukan seperti tapi memang orang yang sangat dingin. Tapi sikap Naruto-kun tadi pagi kurasa sama dinginya dengan Uchiha-san.’
“Sedang apa kau masuk ke sini?”
“Ehh… U-uchiha-san s-sejak kapan k-kau di s-sini?”
“Kau tidak tau? Aku tadi yang menyuruhmu masuk saat kau sedang mengintip. Dan satu lagi sedang apa kau disini?”
“A-aku e-etto…”
“Ayolah, apa kau gagap?”
“T-tidak, i-itu a-aku mau mengambil g-gitarku”
“Itu gitarmu? Nama mu Hina-chan?”
“N-nama ku Hyuuga Hinata kelas 1-3, k-kita satu k-kelas.”
“Aku sudah tau kalau kita satu kelas.”
“L-lalu, kenapa k-kau menanyakan n-nama ku?”
“Itu karena nama mu aneh di gitar ini.”
“T-terserah aku mau m-memberinya n-nama apa!” Wajah Hinata mulai memerah (lagi)
“Cewek sepertimu bisa memainkan gitar? Cih, palingan hanya asal main agar bisa disanjung kakak kelas dan anggota OSIS”
Hinata bergumam di dalam hati
‘Uchiha-san sangat berbeda jauh dengan Naruto-kun, saat aku bilang aku bisa memainkan gitar Naruto-kun memujiku dan memintaku untuk mengajarinya. Dan jauh berbeda dengan Uchiha-san, dia seperti menganggap remeh cewek yang bisa memainkan gitar dan menuduh aku mencari perhatian dari kakak kelas. Setahu ku mereka seperti bersahabat tapi mengapa sifat mereka jauh berbeda?, Naruto-kun seperti orang yang hangat. Uchiha-san seperti hmm bukan seperti tapi memang orang yang sangat dingin. Tapi sikap Naruto-kun tadi pagi kurasa sama dinginya dengan Uchiha-san.’
“Hey, kau kira aku bicara dengan siapa? Coba
buktikan kalau kau bisa memainkan gitar.”
“A-aku t-tidak b-bisa-.”
“Cih, ternyata benar kau tidak bisa, dasar! Semua perempuan sama sama saja. Hanya cari perhatian.”
“Aku tidak cari perhatian!! Aku tidak bisa memainkanya di depan orang, bahkan di depan orang tua saja tidak bisa!!” Hinata berusaha berbicara tidak gagap dan menegaskan semuanya.
“Cih. Dasar wanita berani berbohong untuk semua hal yang di inginkanya! Mana ada bermain gitar dengan cara seperti itu, cih.. kalau tidak bisa ya sudah bilang tidak bisa! Tidak usah pakai alasan tidak bisa main di depan orang lain!” Sasuke meninggalkan Hinata sambil membentaknya Hinata berpikir di dalam hati
‘Dia mengejek aku karena berbohong tentang bisa bermain gitar, tapi apakah dia bisa bermain gitar?’
Istirahat pun usai, Hinata yang menghabiskan waktu istirahatnya untuk
berdebat dengan Sasuke di ruang musik merasa malu untuk masuk kedalam kelas dan
menemui Sasuke. tapi harus bagaimana lagi? mau tidak mau dia harus memasuki
kelas untuk mengikuti pelajaran. “A-aku t-tidak b-bisa-.”
“Cih, ternyata benar kau tidak bisa, dasar! Semua perempuan sama sama saja. Hanya cari perhatian.”
“Aku tidak cari perhatian!! Aku tidak bisa memainkanya di depan orang, bahkan di depan orang tua saja tidak bisa!!” Hinata berusaha berbicara tidak gagap dan menegaskan semuanya.
“Cih. Dasar wanita berani berbohong untuk semua hal yang di inginkanya! Mana ada bermain gitar dengan cara seperti itu, cih.. kalau tidak bisa ya sudah bilang tidak bisa! Tidak usah pakai alasan tidak bisa main di depan orang lain!” Sasuke meninggalkan Hinata sambil membentaknya Hinata berpikir di dalam hati
‘Dia mengejek aku karena berbohong tentang bisa bermain gitar, tapi apakah dia bisa bermain gitar?’
Selama jam pelajaran pun Hinata selalu memandang ke arah Naruto, Sasuke yang duduk di sebelahnya merespon dengan mende-cih. Sasuke kira Hinata melihat kearah nya mungkin Sasuke mengira Hinata adalah salah satu fans nya yang tergila-gila dengan nya. rasa malu Hinata kepada Sasuke bertambah lagi karena kesalah pahaman Sasuke untuk yang kedua kali. Hinata merasa Sasuke terlalu cepat memutuskan sesuatu tanpa mencari bukti bukti nya terlebih dahulu, sangat bertentangan dengan cita-cita Hinata yang ingin menjadi Detektif yang harus menganalisis semuanya dengan benar dan lengkap baru bisa di putuskan.
"Hei Hinata-chan! dari tadi kupertikan kau selalu memandang ke arah Naruto. apa kau menyukainya?"
Hinata lega Sakura tau kalau yang di pandangnya adalah Naruto bukan Sasuke, tapi disisi lain Hinata juga malu karena dia ketahuan memandangi Naruto.
"Eh? Tidak. aku tidak memandangnya."
"Terus kau memandang siapa? Sasuke-kun?"
"Tidak mungkin orang menyebalkan seperti dia aku pandang. aku bingung dengan perasaan ku"
TBC
Fic ini sudah pernah di publish https://www.fanfiction.net/s/10319228/1/Because-That-I-Love-You
Tidak ada komentar:
Posting Komentar